Sabtu, 29 Agustus 2015


Sudah sebulan ini saya berganti profesi menjadi "satpam" karena sebulan ini kakak Najwa mulai bersekolah maka rutinitas kami pun khususnya saya jadi ikut berubah. Pagi-pagi sekali saya harus bangun untuk menyiapkan bekal. Minimal menyiapkan air panas untuk mandinya (karena tanpa air panas sepertinya gak memungkinkan, airnya dingin sekaliiiii :D) kalaupun bekal yang akan di bawa sangat simpel misal roti. Rutinitas yang biasa buat mayoritas para ibu sebenarnya tapi buat saya gak biasa hehehe. Biasanya bangun tidur saya malas-malasan saja, buka laptop dan hape untuk sekedar cek pekerjaan tapi kali ini sudah gak bisa seperti itu lagi.

Profesi "satpam" yang saya maksud adalah menjaga kakak Najwa selama di sekolah. Hanya menjaga gak ikut mengajar ya hahaha. Sampai saat ini profesi "satpam" ini masih asik-asik saja buat saya walaupun kadang ada rasa bosan juga karena hanya menunggu tanpa ada kegiatan lain selain berkutat dengan gagdet atau bercengkerama ala kadarnya dengan para ibu yang lain (suami saya menyebutnya dengan sosialita wkwkwk). Satu-satunya hal yang menarik dari hasil menjadi "satpam" ini adalah memperhatikan anak-anak kecil lucu, menggemaskan, menyebalkan dan POLOS tentu saja :D. Memperhatikan mereka seperti mengingatkan saya waktu kecil dulu, sayangnya saya gak pernah merasakan bersekolah di playgroup maupun taman kanak-kanak, saya langsung loncat ke sekolah dasar xixixi.

Saya jadi berpikir, bagaimana kerumitan para orang tua yang memiliki anak lebih dari 2,3,4, dst?? Karena setiap anak berbeda, tidak pernah sama, maka penangannya juga akan berbeda. Dan pertanyaan sayapun terjawab dengan mengingat kembali bagaimana mama dahulu mengurus kami. 7 anak dengan karkternya masing-masing. Menjadi ibu bukan perkara mudah tapi bukan berarti sulit. Bukan perkara mengajar 1-2-3- ... atau a-b-c-d ... lalu selesai. Bukan perkara memberi makan ini itu agar tumbuh besar dan sehat, lalu selesai. Tidak seperti itu. 


Baiklah, mari kita kembali ke resep saja sebelum yang ditulis semakin gak jelas hehehe. Eh, btw tulisan di atas hanya sekedar share apa yang ada di kepala saya saja ya, jadi tolong abaikan saja :D. 

Resep pound cake hasil nyontek dari blognya mbak Hesti yang rasanya aku modif dari pandan ke mocha. Mbak Hesti sendiri resepnya merujuk ke mbak Alice. Sambung menyambung yah hehehe, tapi dari situlah silaturrahmi bisa tersambung (*mulai gak nyambung lagi saya :D).  Ini resep pound cake yang pertama kali saya buat. Saya kira pound cake itu tak akan jauh dari cake-cake yang sudah pernah saya coba sebelumnya. Ternyata beda. Ini teksturnya lembut sekali. Saya rasa mungkin karena efek sistem au bain marie saat di oven.


MOCHACCINO POUNDCAKE
Sumber : Hesti's Kitchen

Bahan :
120 gr  Butter (Bisa juga mix dengan margarin)
120 gr  Tepung protein sedang
150 gr  Susu kental manis
40 gr   Gula Halus
2 butir Telur
1/2 sdt Vanilla bubuk
1 sdt   Pasta pandan (saya pakai 1 sachet mochaccino goodday yg dilarutkan dengan sedikit air panas)
1/2 sdt Garam halus

Cara Membuat :
  1. Kocok butter dan gula halus sampai lembut mengembang. Tambahkan garam dan vanilla bubuk, kocok rata.
  2. Tambahkan susu kental manis, kocoh hingga rata.
  3. Masukkan terigu sedikit demi sedikit sambil dikocok dengan mikser kecepatan rendah.
  4. Tambahkan telur satu persatu. Pastikan untuk mengocok telur hingga tercampur rata dengan adonan sebelum menambahkan telur berikutnya. Jarak pengocokan antara telur satu dengan yang lainnya adalah 1 menit. Tuang dalam loyang loaf yang sudah dioles dan ditabur tepung.
  5. Isi loyang berisi air dan taruh di rak paling bawah. Taruh loyang adonan di rak tengah. Panggang dalam oven panas 180C selama 25 menit. Keluarkan loyang berisi air. Turunkan oven menjadi 160C lanjutkan memanggang selama 20 menit atau sampai cake ditusuk sudah tidak lengket lagi.





Senin, 24 Agustus 2015


Seperti biasa ya, cek folder ternyata masih buanyak yg harus "dikeluarkan". Salah satunya "sesi" martabak telur ini. Terlalu lama berdiam di folder tanpa diutak atik hingga lupa kapan tepatnya resep ini di eksekusi. Susah memang kalo jadi orang sok sibuk seperti saya :))

Martabak telur ini saya contek dari blognya mbak Citra (Ummu Fatima). Sedangkan mbak Citra sendiri dapat resepnya dari sajian sedap. Terlepas dari mana sumber asalnya, resep ini patut dicoba bagi penggemar gorengan seperti saya. Rasanya 11-12 seperti kebanyakan yang dijual di luaran sana, bahkan lebih enak menurut saya. Renyah dan sehat juga tentunya :D. 

Sebenarnya gak ada yang susah dari membuat martabak telur ini, hanya butuh kecepatan dan ketepatan (tetep susah ya ini namanya hehehe). Step yg paling sulit buat saya adalah saat adonan sudah di wajan karena harus cepat dan tetap hati-hati saat melipat adonannya. Jadi pekerjaan membuat martabak telur ini saya lakukan dengan suami. Saya bagian menipiskan adonan lalu memasukkan kedalam wajan dan diberi isian, pekerjaan berikutnya yaitu melipat dan menggorengnya adalah tugas suami. Sebenarnya gak bermaksud menyuruh suami untuk ikut bekerja di dapur tapi buat kami, terutama saya, hal seperti ini termasuk quality time. Alhamdulillah sih suami asik-asik saja :D

oke langsung saja yak, here we go for the recipe,


MARTABAK TELUR
Sumber : Ummu Fatima

Bahan Kulit :
200 gr   Tepung terigu protein tinggi
1/4 sdt   Garam
140 ml  Air
30 gr     Minyak goreng
500 ml  Minyak goreng untuk merendam
Minyak untuk menggoreng

Cara Membuat :
Campur tepung terigu dan garam. Tuang air sedikit – sedikit sambil diuleni sampai kalis. Tambahkan minyak goreng. Uleni shingga kalis  dan elastis secukupnya. Timbang masing-masing 75 gram. Bulatkan. Rendam dalam minyak goreng 2 jam. (setelah direndam adonan menjadi semakin elastis, mudah untuk dilebarkan)

Bahan Isi :
200 gr    Daging giling
2 siung   Bawang putih, diiris tipis
3 butir    Bawang merah, diiris tipis
2 buah    Cabe merah, dicincang halus
2 sdt       Kari bubuk (saya skip)
1/2 sdt    Garam
1/2 sdt    Merica bubuk1/2 sdt Gula pasir
1 batang Daun bawang, diiris halus
Minyak untuk menumis

Cara Membuat :
Tumis bawang putih, bawang merah, dan cabai merah sampai harum. Tambahkan daging giling. Aduk sampai berubah warna. Masukkan kari bubuk (saya skip), garam, merica bubuk, dan gula pasir. Masak sampai meresap. Tambahkan daun bawang. Aduk rata. Sisihkan.

Bahan Campuran Per Porsi :
25 gr       Bawang pre, diiris halus
2 butir    Telur, kocok lepas
1/2 buah Bawang bombay, cincang halus
1/2 sdt    Garam
1/4 sdt    Merica bubuk
50 gr      Bahan tumisan daging (secukupnya)

Penyelesaian :
Pipihkan kulit dan giling tipis. Campur daun bawang, telur bebek, bawang bombay, garam, merica bubuk, dan tumisan daging. Aduk rata. Panaskan minyak dalam wajan martabak. Letakan selembar kulit. Beri campuran isi. Lipat. Goreng sampai matang sambil disiram minyak.







Rabu, 19 Agustus 2015



Es Pisang Ijo merupakan menu buka puasa kesukaan kami sekeluarga. Sayangnya Es pisang ijo yg saya post ini bukan di buat saat bulan puasa kemarin tapi jauh sebelumnya sudah saya eksekusi karena penasaran dengan cara membuat kulitnya yang hanya didadar oleh mbak Hesti. Makanay namanya jadi "Dadar Es Pisang Ijo". Kalau mama saya biasanya menggunakan teknik dikukus dua kali. Jadi adonan kulit dikukus terlebih dahulu kemudian di balut pisang setelah itu dikukus lagi. Ribet memang tapi sesuailah dengan hasilnya :). 

Sebelumnya saya belum pernah sama sekali membuat makanan ini. Dan ini adalah yg pertama kalinya. Cari resep yang gampang karena was-was gak sanggup kalau terlalu susah hehehe. Untuk yg kedua kalinya saya buat lagi es pisang ijo ini saat bulan puasa kemarin tapi dengan teknik yang berbeda. InsyAllah lain kali akan saya post dengan teknik yang lain (baca: Ribet), semoga saya tidak -sok- sibuk kedepannya agar blog ini juga tampak ber"penghuni" :D




Buat dadar pisang ijonya beneran gampang deh, cuma karena saya baru pertama kali pake pan crepe maker alias wajan kwalik jadi ya berasa susahnya dan hasil akhirnya juga tidak semulus seperti punya mbak Hesti. Karena belum terbiasa aja sih (Ngeles :D). Kalo untuk tekstur kulitnya saya lebih suka dengan teknik klasik yang biasa digunakan oleh mama saya. Kalo yang didadar begini kulitnya juga lembut sih cuma sayangnya cepet kering dan lengket. Mungkin harus di bungkus plastik wrap atau daun pisang kali ya biar kulitnya gak kering.

Dalam penyajiannya kalo bisa es batunya di hancurkan kasar ya biar tampak cantik jadi tidak seperti yang tampak dalam gambar di bawah ini, es batunya tampak mengerikan hahahah. Tapi tetep enak dan seger kok. Percaya deh ;)



DADAR ES PISANG IJO
Sumber : Hesti's Kitchen

Bahan :
250 gr      Tepung protein sedang
300 ml     Santan (kurang lebih)
100 ml     Air pandan suji (saya hanya daun pandan)
1/2 sdt     Garam
1 sdm      Margarin leleh
1 sisir      Pisang Raja yang matang, kukus

Saus (Larutkan dan masak semua bahan hingga meletup-letup) :
1000 ml  Santan dari 1 butir kelapa
150 gr     Tepung terigu/tepung beras (kalau mau agak encer bisa di kurangi)
1/2 sdt     Garam
200 gr     Gula pasir
2 lbr        Daun pandan

Pelengkap :
Sirup pisang ambon ( saya pakai sirup cocopandan)
Es serut
Susu kental manis (Saya skip)

Cara Membuat :

  1. Dalam wadah, campur terigu, santan, garam, dan air pandan suji. Aduk rata menggunakan whisk, bila perlu saring agar adonannya halus dan licin. Tambahkan margarin leleh, aduk rata.
  2. Bikin dadar satu persatu, langsung masukkan pisang ke dalam kulit kemudian gulung (agar pisang dan kulit saling menempel). Rapatkan ujung-ujungnya. Lakukan hingga adonan habis.
  3. Potong-potong dan siap disajikan bersama bahan pelengkap lainnya.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...